OJK KR 2 Jabar terus imbau bahaya Pinjol ilegal, berikut nomor Hotline pengaduannya

Subang, Jawa Barat – Kemudahan akses yang ditawarkan fintech lending menjadi salah satu opsi masyarakat tak terkecuali di Jawa Barat yang membutuhkan pembiayaan secara cepat. Tercatat sampai Agustus 2021 sebesar Rp. 67,7 triliun telah disalurkan kepada 13,23 juta peminjam di Jawa Barat. Jumlah outstanding pembiayaan meningkat sebesar 122,7% dengan nominal Rp. 6,8 triliun dan memiliki porsi tertinggi (26%) dari provinsi lainnya di Indonesia.

Disaat bersamaan masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan cepat, kegiatan fintech lending ilegal (Pinjaman online/pinjol) juga marak. Sudah sangat jelas banyak masyarakat yang terjerat pinjol illegal dan sangat merugikan karena bunga yang diterapkan sangat tinggi, bahkan terjadi penyalahgunaan data pribadi,
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 2 Jawa Barat tak henti mengimbau masyarakat agar senantiasa mencermati izin/legalitas fintech lending yang dikeluarkan. Hal ini disampaikan Kepala OJK Kantor Regional 2 Jawa Barat, Indarto Budi Witono, Sabtu pecan lalu (30/10/2021) di sela-sela media gathering.

Baca Juga   Presiden RI Joko Widodo pada 1 Juli 2021 mengumumkan pemberlakuan PPKM Darurat yang akan berlangsung pada 3-20 Juli 2021, khusus di Jawa dan Bali

“Kita (OJK) tetap dalam upaya terus sosialisasikan terkait bahayanya pinjol illegal. Upaya maksimal sudah OJK lakukan agar pinjol illegal bisa diberantas. Polda Jawa Barat telah mengeluarkan nomor hotline pengaduan pinjol illegal untuk masyarakat yaitu 081.2345.50405”, jelas Indarto.

Indarto mengatakan, OJK Kantor Regional 2 Jawa Barat kini sudah lebih inklusif kepada masyarakat dalam hal pelayanan. ‘Beberapa waktu ini kami rutin mengadakan kegiatan mengundang warga yang ada di lingkungan kantor OJK KR 2, terutama pada hari Jum’at. Tujuannya agar masyarakat mengenal tugas dan fungsi kami dan tidak sungkan untuk memaksimalkan peran kami’, tegas Indarto.

Baca Juga   BPBD Jabar Bangun Tenda Serbaguna di RS Rujukan COVID-19

Lebih jauh dipaparkan pula kondisi kinerja di Jawa Barat sepanjang pandemic COVID-19. Produk pasar modal ternyata telah menjadi salah satu pilihan utama bagi masyarakat dalam berinvestasi. Di Jawa Barat saja, jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat tumbuh pesat hingga 110% menjadi sebanyak 1,29 juta atau 20,3% dari total SID Nasional. Bahkan angka pertumbuhan ini mencatatkan Provinsi Jawa Barat menempati posisi pertama diikuti DKI Jakarta dan Jawa Timur. Transaksi saham per September 2021 saja mencapai Rp.322 triliun atau sekitar 9,06% dari transaksi Nasional.

Sementara itu hingga September 2021 stabilitas sistem keuangan Jawa Barat masih dalam kondisi terjaga. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) masyarakat oleh Perbankan Jawa Barat, bertumbuh sebesar 7,35% YoY. Seiring pertumbuhan DPK, penyaluran kredit/pembiayaan juga tumbuh positif sebesar 6,88% YoY, lebih baik dari nasional yang bertumbuh sebesar 2,21% YoY.

Baca Juga   Ridwan Kamil Ajak Sri Sultan Nostalgia ke Bandung

Selanjutnya, di tengah perkembangan intermediasi keuangan, risiko kredit perbankan di Jawa Barat pun tercatat masih pada level yang manageable meskipun mengalami kenaikan dari periode sebelumnya dengan indikator Non-Performing Loan (NPL) gross September 2021 sebesar 3,96% (September 2020: 3,65%).

Guna menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi nasional serta terus memperkuat sinergi dengan para stakeholder, secara berkelanjutan OJK melakukan asesmen terhadap sektor jasa keuangan dan perekonomian. Salah satunya adalah senantiasa memperkuat koordinasi dengan para stakeholder terkait untuk memenuhi prasyarat yang dibutuhkan dalam mendukung peningkatan kinerja intermediasi, dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta senantiasa melakukan pengawasan melalui pemantauan berkesinambungan terhadap kinerja industri jasa keuangan di Jawa Barat.

(ALN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close