Masa Pandemic, Jawa Barat Tertinggi dalam Penyaluran Pembiayaan Perbankan

Bandung — Jawa Barat menyumbang pembiayaan perbankan terbesar secara nasional (kinerja Bank Umum & Bank Umum Syariah) sebesar 5,80% dan menjadi provinsi tertinggi dibanding 7 provinsi lain dalam penyaluran pembiayaan di masa pandemic. Hal ini terungkap dalam Media Update bersama sejumlah wartawan yang berlangsung di Ballroom Trans Hotel pada Selasa 4 Mei 2021. Sementara kinerja perbankan (Bank Umum, Bank Umum Syariah, BPR dan BPR Syariah) di Jawa Barat pada periode Maret 2021 mencatatkan petumbuhan positif secara Year on Year (YoY) baik asset sebesar 11.19%, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,08%, dan kredit tumbuh sebesar 5,46%.

Kepala OJK Kantor Regional 2 Jawa Barat, Indarto Budi Witono, menjelaskan terdapat perbedaan angka pertumbuhan pembiayaan jika membandingkan angka pertumbuhan dari gabungan Bank Umum dan Bank Umum Syariah dengan gabungan bank Umum, bank Umum Syariah dan BPR/S. Itu dikarenakan kinerja BPR/S masih belum signifikan atau negatif sehingga mempengaruhi pertumbuhan penyaluran kredit. Indarto juga mewaspadai angka Non Performing Loan (NPL) masih terbilang cukup tinggi pada periode Maret 2021 yaitu 4,23% jika dibandingkan periode Februari 2021, yaitu 4,13%. ‘Kita belum tahu setelah lebaran seperti apa angka NPL yang akan muncul terutama di sektor transportasi akibat diterapkannya larangan mudik’, imbuhnya.

Lebih jauh Indarto memaparkan, pembiayaan di Jawa Barat dominan terserap di sektor property dalam hal ini kepemilikan rumah tinggal sebesar 24,2%, diikuti sektor perdagangan 18,4%, pembiayaan multiguna 17,1%. ‘Bank yang berbuku IV kreditnya tumbuh paling tinggi. Jika dibandingkan periode Maret 2020, pertumbuhan kredit pada bank Buku IV di periode Maret 2021 mengalami kenaikan sebesar 13,7% atau dari Rp. 225 trilyun tumbuh menjadi Rp. 256 trilyun’, jelasnya. Indarto menambahkan bahwa pada triwulan I/2021 sektor Transportasi, Jasa Pengiriman dan Komunikasi mengalami pertumbuhan 47% yang didorong karena meningkatnya jual beli online & penerapan work from home dimana masyarakat menggantungkan pada jaringan komunikasi internet, yaitu 13,7%. Sementara pembiayaan pada sektor konstruksi tercatat 4,3%, diikuti real estate & jasa 2,8%, akomodasi 2,0%, dan sector pertanian 1,8%. ‘kami akan push pembiayaan pada sektor pertanian, terlebih lagi pemprov Jawa Barat baru-baru ini meluncurkan program petani milenial dengan slogan tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia’, tambah Indarto.

Trend SID di Jawa Barat Meningkat
Jawa Barat menyumbang bukan hanya dari sisi tumbuhnya penyaluran pembiayaan perbankan selama pandemic, namun trend Single Investor Identification (SID) juga tumbuh signifikan. Dalam paparan OJK KR2, hingga periode maret 2021 total SID di Jawa Barat mencapai 930 ribu atau 9,15% dari SID nasional yang berjumlah 4,76 juta SID. Sementara total transaksi saham di Jawa Barat per Januari 2021 menorehkan angka hingga Rp. 64,18 trilyun atau sekitar 9,78% dari transaksi nasional sebesar Rp. 656,3 trilyun. Sementara itu kota-kota yang menunjukkan peningkatan SID terbanyak antara lain kota Bekasi (11,8%), Kota banudng (11,6%), dan Bogor (10,7%). Untuk perusahaan/emiten di Jawa Barat yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat berjumlah 52 perusahaan.

(ALN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close