Radio Banyak Didengar Selama Pandemi, Ini Buktinya

BANDUNG-Semenjak pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada Maret 2020, muncul berbagai mitos seputar belanja iklan dan konsumsi media. Beberapa diantaranya mengatakan bahwa angka belanja iklan menurun karena efektivitasnya dianggap rendah selama pandemi. Pasalnya, sebagian besar masyarakat melakukan hampir semua aktivitas di rumah atau stay at home. Hal ini mempengaruhi pengambil keputusan untuk beriklan diberbagai platform media seperti media luar ruang yang dianggap tidaklah perlu. Pun demikian dengan media radio yang dianggap sudah ketinggalan zaman, riwayat media cetak dianggap telah tamat, dan tidak ada lagi orang yang membutuhkan hiburan televisi, hingga pola konsumsi yang berubah dari konvensional ke digital.

Berdasarkan berbagai macam sumber data Nielsen yang mencakup TV, radio, media cetak, media luar ruang dan pengukuran belanja iklan, Nielsen Indonesia menepis dengan analisis menyeluruh guna mengungkap mitos dan fakta. Nielsen Indonesia menjawab mitos yang mengatakan bahwa para pengiklan memotong anggaran belanja iklannya. Prediksinya sebagian besar pengiklan akan memotong anggaran iklannya secara drastis selama masa pandemic. Faktanya pada tahun 2019, belanja iklan di televisi, media cetak, radio dan media digital menyentuh angka Rp. 182 trilliun (berdasarkan gross rate card, bonus, promo, diskon, dll). Sedangkan di tahun 2020, saat pandemi COVID-19 melanda, angka belanja iklan justru mencapai angka Rp. 229 trilliun dengan tren yang perlahan mulai stabil semenjak memasuki paruh kedua tahun 2020.

“Kepemirsaan TV selama masa pandemi tetap kuat, karena konsumen ada di rumah, sehingga jumlah iklan yang muncul di TV tidak turun. Walau 20% dari kenaikan belanja iklan di TV disebabkan oleh kenaikan rate card, tetapi stasiun TV mampu bertahan di masa pandemi ini, “ujar Hellen Katherina, Executive Director, Nielsen. Walau banyak pengiklan atau pemilik produk masih sangat berhati-hati mengeluarkan dana untuk beriklan, tetapi fakta menunjukkan beberapa produk besar cukup percaya diri untuk menaikkan angka belanja iklannya. Mereka adalah dari kategori produk online service, pemerintahan dan organisasi politik, produk kecantikan, rokok dan produk perawatan rambut.

Menariknya adalah di era digital dan media social yang menganggap radio sudah ketinggalan jaman alias tidak relevan dengan kekinian, faktanya justru menunjukkan grafik aktivitas mendengarkan radio yang cenderung naik selama 2020. “Selama bertahun-tahun, radio dipersepsikan sebagai media teman dalam perjalanan. Ini tentu tidak sepenuhnya salah. Tetapi perlu diingat kepemilikan mobil di Indonesia kurang dari 10%, kependengaran radio sebenarnya banyak terjadi di rumah. Sehingga peningkatan kependengaran selama periode stay at home ini tidaklah mengherankan” tambah Hellen Katherina. Peningkatan penetrasi ini disebabkan oleh kependengaran AM/FM dan juga platform digital seperti Joox dan Spotify.

Di akhir November 2020, rata-rata angka belanja iklan di radio di area Jakarta saja mencapai 55 miliar dan 65 miliar di luar Jakarta. “ Dengan melihat perubahan tren yang terjadi selama masa pandemi dan melihat bagaimana media digital digunakan sebagai medium penghubung lain, baik TV, media cetak, radio, untuk mengkonsumsi konten (hiburan atau informasi), para pengiklan harus bijak dalam mencari kekuatan masing-masing media guna menjangkau konsumen mereka. Hellen menyarankan Cross media adalah startegi baru dalam industry memutuskan menggunakan media untuk melakukan kegiatan promosi. (aln)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close