NEWS

Bangkitkan Pariwisata Jabar, Kadisparbud Jabar: inilah saatnya pentahelix dibuktikan tidak hanya sebatas kata-kata..

Bandung,- Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif tidak luput dari hantaman gelombang pandemi Covid-19. Hal tersebut mengakibatkan ribuan pekerja di sektor ini terdampak mulai dari pengurangan jam kerja hingga pemutusan hubungan kerja karena perusahaan terpaksa tutup untuk semantara.

Pemerintah pun tidak tidak tingga diam dan berusaha membangkitkan kembali Industri dan pelaku pariwisata serta ekonomi kreatif ini, salah satunya melalui bantuan permodalan yang tepat guna dan tepat sasaran.

Terkait dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat, Dedi Taufik mengatakan jika melihat dari data yang ada, sedikitnya ada enam puluh tujuh ribu lebih pelaku industri pariwisata yang terdampak langsung maupun tidak langsung akan pandemi covid – 19 ini.

“Andaikata dalam 1 keluarga (pelaku pariwisata) ini ada empat orang, setidaknya ada dua ratus ribu lebih yang terdampak dan ini harus dicarikan solusinya” Ujar Dedi saat membuka Sosialisasi Alternatif Pembiayaan Bagi Pelaku Industri Pariwisata “Together Toward Future” di Hotel Savoy Homan. Selasa 24 November 2020.

Tentunya untuk membantu membangkitkannya kembali memerlukan dukungan baik secara regulasi maupun biaya dalam segi permodalan. Karena pilar-pilar pendukung pariwisata tumbuh dan saling terhubung menjadi ikatan yang menggerakan roda perekonomian.

Untuk pendanaan, Jabar sudah mendapatkan bantuan dana hibah dari pemerintah pusat sebesar Rp277 Miliar, dimana 30 persennya untuk pemulihan industri pariwisata. Namun, karena yang terdampak itu tidak hanya Industri pariwisata, tapi juga pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif maka alokasi penggunaan dana tersebut juga setidaknya harus diatur ulang oleh kementerian.

“Hal ini untuk menjaga, agar jangan sampai karena penggunaan dana bantuan/hibah untuk covid yang tidak pas nantinya akan membuat kita semua jadi terperiksa semua. Penggunaan dana dana seperti ini harus tepat guna dan tepat sasaran” Tegasnya.

Selain dana – dana dari pemerintah baik dari pemerintah pusat maupun daerah, masih ada instrumen alternative pendanaan dari pihak lainnya misalnya perbankan atau industri jasa keuangan lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh Industri pariwisata serta pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kita disini ada bank bjb, yang memang memiliki dana bantuan dan suport pada pelaku umkm. Hal ini coba kita kolaborasikan dengan asosiasi pariwisata serta pelaku pariwisata serta ekonomi kreatif untuk memanfaatkan hal tersebut utamannya disaat pandemi seperti sekarang ini” ujarnya.

Kita selalu mengatakan pentahelix, dan inilah saatnya pentahelix ini dibuktikan tidak hanya sebatas kata saja tapi benar-benar diwujudkan dalam suatu kolaborasi bersama – sama. Karena sukses itu tak bisa sendirian tapi harus kolaborasi sesuai dengan tagline kegiatan ini yakni Together Toward Future.

“Saya berharap, dari kegiatan ini bisa memberikan solusi nyata bagi asosiasi, industri dan pelaku pariwisata serta ekonomi kreatif untuk bersama – sama bangkit dan mewujudkan pariwisata jabar juara” tegasnya.

Dedi menambahkan, Pariwisata di Jabar akan dibangkitkan melalui digital karena pasar milenial kita sangat besar mencapi 71 persen, kemudian filmn kuliner, fashion dan kriya. Sehingga kita sudah membuat road map nya itu hal tersebut dan ini tentunya tidak bisa berjalan sendiri tapi harus berkolaborasi melalui pentahelix tersebut.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Gerry Ahmad Syam mewakili bank bjb menyambut baik apa yang menjadi harapan dari disparbud jabar dan siap memberikan solusi terbaik kepada industri pariwisata dan pelaku pariwisata serta ekonomi kratif yang ada di jabar.

“Kami akan sangat mendukung permodalan bagi palaku umkm maupun industri kreatif” Ujar Gerry.

Dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19, maka optimalisasi UMKM dinilai menjadi kunci dalam upaya tersebut. Bank Bjb sebagai BUMD Pemprov Jabar tentu menjadi generator utama optimalisasi UMKM tersebut. Sehingga lebih fokus kepada pemulihan ekonomi dibanding komersial untuk saat ini.

Hal ini untuk mewujudkan program Pemerintahan Jawa Barat maupun disparbud agar UMKM ini mampu meningkatkan daya asing, nilai tambah, dan produktivitas usaha melalui pemberdayaan wirausaha yang tangguh, kreatif dan berkelanjutan.

“Maka bank BJB sebagai lembaga keuangan selalu mendukung program pemerintah dan lembaga/institusi yang bergerak dalam pembinaan pelaku usaha.”ujarnya.

Gerry menambahkan, Pemberdayaan akan dilaksanakan dengan menggunakan program PESAT dengan menjalankan tiga pilar program yaitu Pesat Kapitas Utama, Pesat Wirausaha Baru, dan Pesat Sehat Sejahtera.

Selain permodalan melalui perbangkan, Dirut PT Chitose C-Engineering Indonesia, Fadjar Swatyas membeberkan pengalamannya membuka akses permodalan melalui Initial Public Offering atau IPO.

“Perusahaan menjual sahamnya kepada masyarakat untuk pertama kali. Melalui IPO, masyarakat umum bisa membeli saham dan perusahaan dapat memperoleh dana tambahan.” Ujarnya.

Menurutnya ada beberapa manfaa yang bisa diperoleh jika perusahaan ini melakukan IPO diantaranya, perusahaan akan banyak yang mengawasi baik dari instrumen pemerintah seperti OJK maupun Bursa Saham dan tentu saja para investor.

Selain itu, perusahaan akan menjadi transaparan karena go pubilk dan tentunya akan melahirkan tata kelola perusahaan yang baik dan semua merasa memiliki dan berusaha untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik dari masa – masa.

“IPO adalah awal yang baik untuk pertumbuhan dimasa depan, dan ini sejalan dengan filosofi chitose yang berarti berumur panjang” Pungkasnya.

Penutup dari diskusi tersebut, Sub Kordinator Perbangkan KOnvensional Kemenparekraf RI, Syahrian juga memberikan gambaran akses permodalan bagi para pelaku umkm maupun pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa mengakses permodalan tidak hanya dari instrumen perbangkan tapi dari industri jasa keuangan lainnya seperti dana masyarakat ataupun finansial teknologi.

“92,73 % persen pelaku usaha parekraf ini malas untuk berhubungan pihak berbankan karena proses yang panjang. Tapi masih ada solusi lainnya yakni dari Dana masyarakat, modal ventura dan fintek yang merupakan akses non perbangkan yang bisa dimasuki oleh para pelaku umkm dan pelaku wisata serta ekonomi kreatif” Pungkasnya. ***

(RLS)

Show More

Related Articles

Close