NEWS

Pilpres AS 2020 dan Dampaknya terhadap Indonesia : Okezone Nasional

JAKARTA – Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) menyita perhatian dunia. Penghitungan suara kontestan Pilpres AS, Donald Trump dan Joe Biden, hingga kini masih berlangsung.

Berdasarkan hasil sementara, Biden meraih 264 suara elektoral (electoral votes), sedangkan Trump mengantongi 214 suara. Untuk memenangi Pilpres AS, seorang calon presiden minimal harus meraih 270 electoral votes.

Bagi banyak pihak, Pilpres AS akan sangat menentukan tata kelola dunia. Maklum saja, Negeri Paman Sam memang menjadi salah satu kekuatan adidaya di ranah global.

Potensi Kericuhan

Pengamat politik internasional, Arya Sandhiyudha, mengatakan, potensi kericuhan Pilpres AS cukup tinggi lantaran pemilihan dilakukan melalui dua metode. Pertama, pencoblosan langsung pada hari H. Kedua, pemilihan melalui mail in. Perbedaan metode ini berdampak pada penghitungan suara.

“(Potensi) kericuhannya karena ada dua metode pemilihan dan masing-masing kandidat punya strategi berbeda. Republican (kubu Trump) kecenderungannya memilih di hari H. Sedangkan Demokrat (kubu Biden) sebagaian besar lewat mail,” ujar Arya saat berbincang dengan Okezone, Kamis (5/11/2020).

Menurut Arya, kedua kandidat berpotensi saling mengklaim kemenangan di awal lantaran hasil penghitungan suara yang masuk melalui pencoblosan langsung dan mail in memenangkan salah satu dari mereka. Hal inilah yang menjadi titik kericuhannya.

“Kericuhannya itu akan terjadi ketika suara yang masuk melalui pencoblosan langsung itu dimenangkan oleh Trump terutama di kota-kota kunci, sementara yang mail in itu belum (terhitung). Pemilih Demokrat (Biden) misalnya, memilih lewat mail in. Itu potensi kericuhan,” tuturnya.

Pola Pendekatan Luar Negeri Berubah

Arya menuturkan, siapapun pemimpin AS yang terpilih tidak akan berdampak signifikan terhadap Indonesia. Hanya saja, pola pendekatan politik luar negeri antarpemimpin memang berbeda.

Trump, kata Arya, lebih melakukan pendekatan isolasionis. Pola yang dimainkan Trump ini lebih cenderung mengutamakan agenda domestik dan kurang perhatian pada multilateralisme.

Trump juga kerap absen pada fora internasional. Namun, ia memiliki kepentingan lebih pada urusan ekonomi-perdagangan dan meninggalkan pendekatan hard power seperti perang.

Dengan kata lain, jika Trump kembali memimpin, perhatian AS terhadap Indonesia tak terlalu signifikan, kendati dalam tiap hubungan selalu ada kepentingan.

“Meski banyak pernyataan kontoversi, Trump meninggalkan pola pendekatan hard power dan menggunakan soft power, yakni kekuatan ekonomi,” ucap Arya.

“Kalau lihat dari jejaknya, Trump selama empat tahun terakhir tak hadir di fora internasional. Jadi perhatian Trump ke Indonesia sebenarnya relatif kurang, baru terakhir Pompeo hadir, terakhir sekali. Tapi sisi positifnya Trump tak pernah menggunakan hard power,” tuturnya.

Sementara Biden, lanjut Arya, lebih memainkan pendekatan internasionalisme, yakni menonjolkan kepemimpinan global. AS diprediksi hadir melakukan intervensi di berbagai isu, krisis, dan momentum yang terjadi di kawasan. Biden juga berpotensi menggunakan hard power.

Baca Juga : Pengamat: Hasil Pilpres AS Minim Pengaruh terhadap Indonesia

“Kalau Biden memimpin (AS) maka akan kental dengan internasionalisme, beda dengan Trump yang isolasionis,” ucap Arya.

“Kalau internasionalisme itu plus minusnya dari sisi dukungan akan lebih ada perhatian. Tapi, di balik dukungannya pasti ada national interest dengan tiap mitra. Dukungannya misalnya bisa berupa ekonomi atau military,” katanya.

Dengan corak internasionalisme, bisa dibilang Biden lebih ‘perhatian’ dengan Indonesia dibanding Trump. Namun, di balik itu tentu ada kepentingan nasional AS yang diusung.

“Biden lebih potensi. Kalau perhatian lebih banyak tapi tak ada perhatian gratis. Dari situ akan melakukan upaya intervensi dan potensi hard power. Berbeda dengan Trump yang mengutamakan domestik. Biden akan berusaha (mengintervensi) kepemimpinan global di kawasan pasifik (yang didalamnya ada Indonesia). Ada negara yang sangat diandalkan oleh AS untuk menghadapi kebangkitan Cina,” tuturnya.

Baca Juga : Trump Ajukan Gugatan dan Meminta Penghitungan Ulang Suara

Okezone

Show More

Related Articles

Close