NEWS

15 Desa di Lereng Gunung Slamet Kekeringan, Warga Krisis Air Bersih : Okezone News

PEMALANG – Musim kemarau membuat sedikitnya 12 desa di Kecamatan Pulosari dan 3 desa di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, mengalami kekeringan parah. Ribuan warga yang berada di kaki Gunung Slamet mengalami krisis air bersih.

Kedua belas desa tersebut adalah Desa Clekatakan, Siremeng, Batursari, Pagenteran, Penakir, Pulosari, Gunungsari, Jurangmangu, Cikendung, Gambuhan, dan Nyalembeng, dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 23 ribu jiwa lebih. Di Kecamatan Belik ada tiga desa, yaitu Belik, Gunungjaya, dan Gombong. Krisis air bersih tersebut telah mereka alami sejak dua bulan lalu.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Pemalang, Wahadi, menyebutkan setiap hari pihaknya melakukan droping air ke sejumlah lokasi.

“Kekeringan melanda di 12 desa di Pulosari dan 3 desa di Belik. Kami setiap hari melakukan droping air ke lokasi kekeringan. Namun, hanya ada 3 aramada tanki yang bisa mengirim air karena dua mobil tangki untuk penyemprotan disinfektan,” kata Wahadi, Selasa (11/8/2020).

Warga Pulosari mengantre air bersih di bak-bak penampungan air. (iNews/Suryono Sukarno)

Ia menyebutkan, warga yang kesulitan air bisa melaporkan ke desa atau kecamatan, lalu diteruskan ke BPBD. Dari BPBD akan mengirimkan bantuan sesuai dengan jadwal, secara bergiliran.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga terpaksa antri di bak-bak penampungan air yang sudah minim isinya. Mereka harus menunggu dua sampai tiga jam guna memperoleh dua jeriken atau ember air bersih tersebut.

“Kami sudah lebih dari dua bulan kesulitan air bersih. Setiap hari harus antri di bak penampungan yang airnya sudah minim. Bantuan dari BPBD atau yang lain tidak mencukupi kebutuhan,” kata warga Gunungsari, Witri.

Selain itu, mereka juga bergantung pada bantuan yang diberikan pemerintah daerah melalui BPBD, sejumlah lembaga, atau para relawan. “Jika tak ada bantuan, kami mendapatkan air bersih dari penjual keliling dengan harga Rp60 ribu setiap sekitar 1.000 liternya,” ujar warga Pulosari, Harto.

Krisis air bersih memang menjadi kondisi tahunan yang harus selalu mereka hadapi karena secara geografis memang daerah mereka berada di kaki Gunung Slamet.

Baca Juga : Musim Kemarau, Ribuan Warga Mojokerto Terancam Krisis Air Bersih

Setiap bantuan air gratis datang, warga langsung berebut untuk mendapatkannya. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga orang tua semuanya berusaha mendapatkan air sebanyak-banyaknya dengan cara mereka membawa berbagai alat untuk menampung, mulai dari ember, jeriken, hingga bekas tempat cat, dan lainnya.

Baca Juga : Musim Kemarau, Sejumlah Waduk di Sragen Jadi Kering


Okezone

Show More

Related Articles

Close