Memaknai Cap Go Meh Dalam Spirit Keragaman Nusantara

Peristiwa 00117X

Bandung,-- Akhir pekan lalu masyarakat tionghoa di Indonesia merayakan cap go meh, yang merupakan perlambangan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek. Tradisi inipun dilakukan oleh komunitas masyarakat tionghoa di Kota Bandung.

Namun sedikit berbeda dengan perayaan cap go meh pada umumnya, karena dalam perayaan itu ada pembauran kultur budaya Nusantara dan hal tersebut  menjadi bukti kerukunan dan kebhinekaan yang ada di Indonesia.

Pengagas Acara, Anthony Suhari yang juga ketua dari Apresiasi Kelompok Anak Juara (ASKARA) mengatakan bahwa konsep dari acara Cap Go Meh yang bertajuk Imlek Nusantara ini, adalah mengangkat kebhinekaan yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, selain menampilkan barongsai versi tionghoa juga ada pertujukan barong dalam berbagai versi kebudayaan yang berkembang di banyak daerah di Indonesia.

“Ada Barong Bali, Reog Ponorogo, Sisingaan Jawa Barat, dan lain sebagainya. Selain itu, juga ada bebagai kesenian lain seperti music mandarin /mandarin Indonesia, rampak gong xi gong xi , dan Ekspresi " Anak Juara.” Jelas Anthony kepada wartawan.

Sedangkan festifal 15 M, dia menjelaskan, hal itu dilakukan untuk menarik perhatian dan mempopulerkan istilah dari Cap Go Meh. “15 M itu dibacanya Cap Go Meh, bukan 15 miliar” terangnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, sudah menjadi tradisi setiap suku bangsa untuk merayakan tahun baru. Mesi berbeda cara dan adat istiadatnya, namun tetap memiliki kesamaan makna yaitu “Harapan Baru”. Dengan harapan, tegas Anthony, di tahun baru akan membawa kebahagian bagi semua.

“Bagi masyarakat tionghoa di Indonesia, perayaan Imlek adalah berkumpul bersama keluarga dan ini sama dengan perayaan tahun di berbagai suku bangsa lainnya” Ujar Anthony

Hal ini, jelasnya, sangat berarti dan membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga, orang tua, muda maupun anak anak. Jika ditarik pemahaman kumpul keluarga itu dalam skala lebih luas dapat diartikan sebagai kumpul bersilaturahmi, saling menghargai budaya yang berbeda, namun tetap satu Indonesia.

“Hari raya imlek, hari libur nasional, sangat pas kiranya apabila dirayakan secara bersama sama sebagai wujud kebersamaan dalam mengusung indahnya keragaman. Sehingga ijinkan kami menyebutnya perayaan ini sebagai Imlek Nusantara” paparnya.

Tujuan acara ini, sambunyanya,  tidak lain adalah untuk saling menghargai antar budaya yang berbeda. Dalam konteks ini, jelasnya, Hari Raya Imlek, dapat dirayakan bersama sebagai wujud indahnya kebersamaan dalam Keragaman.

 

“Menjadikan Imlek sebagai perayaan bersama dan momentum yang tepat dalam mempersatukan keragaman Nusantara. Berbeda budaya tetapi untuk satu tujuan, Indonesia Kuat, seperti Singa. Barong” pungkasnya.


BERITA LAINNYA:



Telkom University Raih Akreditasi Internasional
Demi Citarum Bersih, Pemerintah Tagih Komitmen Pelaku Usaha dan Industri
Jabar Raih Penghargaan Tertinggi Parasamya Purnakarya Nugraha
Jelang Akhir Masa Jabatan, Aher akan Terima Penghargaan Tertinggi dari Presiden RI