Minim Informasi, Sebabkan Masih Banyak Warga Pelihara Satwa Liar Dilindungi

Peristiwa 00348X

BANDUNG. Minimnya informasi mengenai larangan memelihara satwa liar atau satwa dilindungi, menyebabkan banyaknya keberadaan satwa maupun tumbuhan yang dilindungi masih beredar di masyarakat. Guna mengantisipasi maraknya peredaran, penjualan dan perburuan satwa maupun tumbuhan langka dilindungi, Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat, sejak awal 2017 membuka pelayanan pengaduan berupa call center yang tersebar di 6 Seksi Konservasi Wilayah lingkup BBKSDA Jawa Barat.  

Keberadaan dan tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan dan Satwa Liar ini merupakan suatu kesatuan yang bertugas menindaklanjuti informasi atau pengaduan bersumber dari masyarakat mengenai kepemilikan maupun perdagangan satwa liar yang dilindungi dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Konservasi wilayah setempat

Seperti rilis yang diterima redaksi, baru-baru ini call center Seksi Konservasi II Bogor pada 5 Maret 2018 menerima pengaduan masyarakat (pemerhati satwa) melalui nomor WA perihal kepemilikan satwa dilindungi undang-undang. Berdasarkan laporan, tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar melakukan pengamatan ke TKP di Kelurahan Duren Mekar Kecamatan Bojongsari Kota Depok. Hasilnya, diketahui adanya salah seorang warga berinisial KW yang memelihara 6 ekor burung (dari 4 jenis burung) dilindungi, antara lain 2 ekor Merak Hijau, 1 ekor Kakaktua Raja Hitam, 2 ekor Nuri Merah Kepala Hitam, dan 1 ekor Jalak Bali.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat Sustyo Iriono mengatakan, maraknya keberadaan/kepemilikan satwa liar di masyarakat salah satu faktornya adalah belum pahamnya warga masyarakat terhadap aturan perundangan mengenai perlindungan satwa dan tumbuhan liar dilindungi. Namun demikian, adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak khususnya dengan media massa, menjadi informasi bagi warga masyarakat sehingga memberikan kesadaran bagi yang masih memiliki atau memelihara satwa liar dilindungi, segera menyerahkan ke Balai Besar KSDA untuk dititipkan ke Lembaga Konservasi.

Seperti pengakuan KW, sekitar 6 bulan lalu dirinya diberi satwa dilindungi tersebut oleh rekan kerjanya, namun yang bersangkutan tidak memahami bahkan tidak tahu pertauran terkait peredaran tumbuhan dan satwa liar. Melalui pendekatan tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Stwa Liar dilindungi, akhirnya KW dengan sukarela menyerahkan ke enam ekor satwa tersebut pad 13 Maret 2018 di kantor KSDA Wilayah 1 Bogor.

Untuk diketahui, Balai Besar KSDA Jawa Barat  sejak awal tahun 2018 hingga saat ini telah berhasil mengevakuasi 43 individu dan menitiprawatkannya ke Lembaga Konservasi untuk direhabilitasi.

(Rep ALN)     


BERITA LAINNYA:



Telkom University Raih Akreditasi Internasional
Demi Citarum Bersih, Pemerintah Tagih Komitmen Pelaku Usaha dan Industri
Jabar Raih Penghargaan Tertinggi Parasamya Purnakarya Nugraha
Jelang Akhir Masa Jabatan, Aher akan Terima Penghargaan Tertinggi dari Presiden RI