Seorang Barista berikan pelatihan meracik kopi kepada petani kopi, peserta pelatihan kewirausahaan KLHK RI yang digelar di Bandung pada 13 - 14 Oktober 2017. (Photo ALN)

Petani Kopi Jawa Barat Antusias Ikuti Pelatihan Kewirausahaan

Ekonomi 00121X

Ada beragam cerita mengenai kopi di dunia, mulai dari era kopi hitam, kopi kuliner, hingga saat ini berkembang menjadi kopi specialty. Sebagai produsen kopi terbesar ke 3 di dunia, pengembangan kopi specialty Indonesia memiliki peluang yang cukup besar. Kopi specialty dihasilkan dari kebun kopi yang spesial dari aspek kesesuaian agroklimat, pola tanam, pemupukan, pemeliharaan, penanganan hama penyakit, pemilihan jenis varietas, serta penanganan panen dan pasca panen-nya. Melalui pengembangan dan pendekatan kopi specialty ini, diharapkan akan tercapai kesejahteraan ekonomi petani kopi, dampak pembangunan social yang lebih baik, serta pelestarian hutan yang lebih baik.   

 

Sebagai langkah mewujudkan ke arah peningkatan kesejahteraan petani kopi, khususnya di Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, menggelar pelatihan kewirausahaan kopi untuk petani kopi di Jawa Barat pada 13 s/d 14 Oktober 2017 di kota Bandung. Petani kopi yang mendapat pelatihan kewirausahaan dari KLHK merupakan petani kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Jawa Barat. Selama pelatihan yang berlangsung di Café Preanger Point, para petani belajar bagaimana pola menanam kopi yang tidak merusak hutan, meracik kopi sampai  membangun desa wisata kopi. Sesi ini melibatkan Specialty Coffee Asociation of Indonesia (SCAI), sebuah organisasi jaringan global "Specialty Coffee Association"  yang konsen pada pendidikan pasar global terkait kopi spesialti, memiliki standarisasi dan sertifikasi,  mengatasi persoalan mata rantai pasokan, menjadi wadah jaringan kerja dari para pelaku industri serta,  meningkatkan kesadaran hukum dalam kegiatan usaha kopi spesialti. Setra Yuhana dari SCAI mengatakan, untuk menghasilkan kopi specialty harus melalu system agroforestry (system tanam dibawah naungan). “Dengan system tanam agroforestry, tanaman kopi dapat bertahan hingga 25 tahun dibanding system tanam terbuka yang hanya mampu bertahan hingga 7 tahun”, tuturnya.     

 

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hadi Daryanto, mengatakan kopi memiliki akar pohon yang menghujam tanah sedalam  lebih dari 3 meter sehingga dapat mencegah  erosi.  Selain itu pohon kopi  menyerap CO2 dan menghasilkan O2 , sehingga baik untuk menjaga keseimbangan lingkungan. “Selama ini mereka (petani, red) belum mendapat fasilitas dari Negara, maka kami buat pelatihan agar taraf hidup petani kopi meningkat.  Sayang kalau mereka jadi petani gurem terus, harus ada peningkatan menjadi wirausaha kopi,” ungkapnya. “Kopi saat sedang booming dan bahkan sudah menjadi gaya hidup. Banyak orang kota yang suka nongkrong di kedai kopi  Ini peluang bagi petani kopi untuk naik kelas, tidak hanya jual kopi, tapi juga jual cangkir kopi di area  ekowisata yang juga sedang booming,” ujarnya.

 

Hadi mengatakan, agar  terampil meracik kopi, para petani akan dilatih menjadi barista professional. “Jika di kampung, barista mengolah kopinya alami, belum terstandar, maka untuk naik kelas menjadi entrepreneur kita latih cara meracik kopi sesuai karakteristik kopi,” ucap dia.

 

Sementara itu, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) berharap, KLHK tidak hanya sesaat memperhatikan para petani kopi dengan memberikan pelatihan kewirausahaan bagi para petani kopi.  Koordinator LMDH Jawa Barat, Roy M mengatakan, kehadiran pemerintah sangat diharapkan oleh para petani kopi. “Kami beberapa kali pernah mengikuti diklat-diklat, selesai. Tapi hasilnya tidak ada.  Jangan sampai disini, petani perlu juga diberikan wawasan hilirnya. Kalo untuk hulu petani itu sudah ahli, mencangkul, menanam, dan memanen kopi”, ungkapnya.   

(ALN)

 

 

 

  

 


BERITA LAINNYA:



BI Jabar Jamin Ketersedian Uang Saat Natal dan Tahun Baru Mencukupi
Pemprov Jabar Himbau Warga Ikuti Imunisasi ORI Difteri
Nilai Gizi dan Ekonomi Tinggi, Ikan Sidat Punya Potensi
Vaksin Indonesia Dibutuhkan di Banyak Negara Islam