BKSDA Jabar Awasi Aktivitas Pengambilan Cacing Sonari di TNGGP

Peristiwa 00118X

BANDUNG - Seorang pria bernama DN (48 th) seorang warga Kampung Rarahan Desa Cimacan Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur nekat mengambil Cacing Sonari di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan cara merusak kadaka. Tidak hanya itu, ia juga tidak jarang menebang atau memotong dahan, untuk mendapatkan cacing yang berada di dalam kadaka. Sedangkan untuk untuk cacing sonari yang berada di tanah, pelaku melakukannya secara sporadis.

Demikian disampaikan kepala Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Selaku Koordinator UPT Wilayah Jabar I, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si, melalui Pers Rilis yang diterima redaksi Sindotrjaya FM Bandung, Selasa (17/05/2017).

Dijelaskannya, taman nasional yang terletak di 3 Kabupaten (Bogor, Cianjur dan Sukabumi) ini menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik tumbuhan maupun satwa. Salah satunya adalah Cacing Sonari yang dipercaya memiliki khasiat untuk pengobatan tradisional. Jenis cacing dengan nama ilmiah Polypheretima Elongata ini biasanya hidup di dalam tumbuhan kadaka/pakis sarang burung (Aspienium scorpio) maupun hidup di tanah jika cacing tersebut jatuh dari pohon. Potensi Cacing Sonari tersebut rupanya telah menarik sebagian orang untuk mendatangi kawasan TNGGP guna mengambil Cacing Sonari tersebut dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika konservasi.

“Kami sampaikan bahwa aktifitas yang dilakukannya dengan cara merusak tumbuhan Kadaka, menebang/memotong tumbuhan efifit tersebut dan melakukan penggalian tanah secara sporadis telah merusak sekitar 3 hektar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan juga  merusak habitat bagi tumbuhan dan satwa lain yang hidup didalamnya,”katanya

Sebagai pemegang amanat  Undang – undang  Nomor  5 Tahun 1990 bahwa BBTNGGP sebagai Unit Pengelola penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya berkewajiban untuk menyelenggarakan seluruh fungsi konservasi diantaranya dengan melakukan perlindungan dan pengamanan kawasan.

Ditambahkannya, hal yang paling fatal pada kejadian ini adalah bahwa lokasi yang digunakan sebagai lokasi pengambilan cacing merupakan Zona Inti yang berada pada ketinggian 2.200 mdpl dari Taman Nasional, dimana Zona ini hanya dapat digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Secara Hukum pelaku  telah melanggar Pasal 33 Ayat 3 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyatakan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam”, dan Pasal 12 huruf C, undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Tindakan ini adalah upaya terakhir yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, setelah upaya Penyuluhan dan Penyebarluasan informasi dinilai tidak mampu untuk menyadarkan masyarakat akan tindakan illegal tersebut. Kejadian ini diharapkan dapat menjadi efek jera bagi pelaku dan menjadi pelajaran bagi masyarakat luas.

“Pengungkapan kasus Cacing Sonari ini diharapkan bisa menjadi awal dari pengembangan kasus serupa yang lebih besar di kawasan konservasi, khususnya di TNGGP. Oleh karena itu, peran serta berbagai pihak, termasuk masyarakat dalam memberikan informasi seperti halnya yang terjadi pada kasus  Cacing Sonari ini sangat dinantikan,” pungkasnya. 


BERITA LAINNYA:



Sinergi DPU DT dan Karang Taruna Jabar, Galang Donasi Untuk Rohingya
'Humanity of World Moslem', Aksi Kemanusiaan DPU DT
Pesan Khusus Ceu Popong Dalam Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan
Kolaborasi Pemprov Jabar Dan RZ Peduli Rohingya