Misi Ganda Pekerja BUMN Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Bangsa

Ekonomi 00073X

Bandung, -- Serikat Pekerja lahir untuk memperjuangan kesejahteraan kaum pekerja/buruh yang dari waktu ke waktu selalu berada dalam ancaman eksploitasi para pemberi kerja. Meski terus bertumbuh, namun perjuangan meretas kemakmuran tersebut tidak selalu berakhir sukses.   

 

Terkait dengan Mey Day yang merupakan simbol perlawanan kaum buruh, Sekretaris Jenderal DPP Serikat Karyawan PT Telkom, Abdul Karim berpandangan, meski negara dan pemerintah saat ini telah campur tangan cukup jauh melalui sejumlah instrumen perundang-undangan, namun perjuangan meretas kemakmuran tersebut tidak selalu berakhir sukses

 

“ Harus kita akui strategi negara dalam memberikan perlindungan kepada kaum pekerja/buruh itu tidak berjalan mulus karena selalu mendapat perlawanan dari pihak  lawan seteru kaum pekerja/buruh yaitu pemberi kerja atau pemilik modal” Ujarnya dalam keterangan resminya. Sabtu (29/4)

 

Perlawanan tersebut, ungkapnya, tidak saja dilakukan secara terang-terangan misalnya dengan cara menggugat keputusan Pemerintah mengenai UMR, tetapi juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi melalui sejumlah aksi lobby sejak proses legislasi.

 

“Hari Buruh (Mayday) yang diperingati setiap tanggal 1 Mei  menjadi puncak “perayaan” penderitaan kaum buruh, dan akan terus berlangsung entah sampai kapan” Tegasnya.

 

Disinggung mengenai tantangan kaum buruh/pekerja kedepannya, ia mengatakan, saat ini pekerja Indonesia menghadapi tantangan baru dengan masuknya pekerja-pekerja asing yang datang membanjiri sektor-sektor tambang, konstruksi, properti dan lain sebagainya sehingga semakin mempersempit peluang angkatan kerja baru dan semakin menekan posisi tawar pekerja eksisting.

 

“Himpitan yang mendera kaum buruh di Indonesia hanyalah satu sisi dari banyak persoalan yang dihadapi negeri ini dalam masalah ekonomi. Sisi lain yang tidak kalah beratnya justru terjadi di level negara” Tegasnya.

 

Melalui Nawacita yang diusung oleh Presiden Jokowi, Imbuhnya, menmbulkan harapan baru. Negara dan Bangsa ini akan memulai program turn-around, kembali ke jatidiri yang mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politis dan berkepribadian secara budaya. Namun, Program Mega Thinking ini sudah pasti tidak berjalan mulus. Karena setiap perubahan besar pasti menebar efek di penjuru kepentingan, sehingga tidak mustahil banyak pihak yang akan terganggu.

 

“Maka oleh karena itulah, disinilah kaum pekerja di BUMN khususnya sebagai elemen bangsa dapat mengambil peran, meskipun kecil dan para aktivist Serikat Pekerja BUMN harus bersatu padu,  keluar membawa misi khusus selain untuk kesejahteraan anggota-anggotanya, yaitu misi yang lebih besar, untuk mendorong dan berupaya mewujudkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi.” Pungkasnya.


BERITA LAINNYA:



15 Kabupaten/ Kota di Jabar, Masuk Ketegori Layak Anak
Laskar Naga Bonar Dukung Demiz Maju Dalam Pilgub 2018
DPD PKS Kota Bandung, Mulai Panaskan Mesin Politik
600 Ribu Sarjana Indonesia Menganggur