Netty : Kemiskinan Bisa Picu Kekerasan Pada Anak

Peristiwa 00069X

Bandung, -- Kemiskinan yang terjadi di tengah masyarakat, memicu tingginya angka kekerasan pada anak. Dimana kemiskinan tersebut tidak hanya miskin secara ekonomi, tetapi juga miskin wawasan dan pengetahuan, serta miskin nilai agama.

 

“Hal tersebut menjadikan orangtua sangat otoritatif, selalu menggunakan bahasa kekuasaan dan hukuman sebagai alat untuk mengatur anaknya, dan inilah yang membuat anak mengalami fenomena BLAST (Bored, Lonely, Angry, Stress, dan Tired), dan menjadikannya rentan menjadi korban kekerasan” Ungkap Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan Kepada wartawan. Kamis (27/4).

 

Sebagai salah satu solusinya, Ungkap Netty, adalah dengan menerapkan sistem multilevel marketing (MLM) dalam menangani kekerasan. Karena tegasnya, menegaskan, penanganan kekerasan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, organisasi sosial, juga masyarakat.

 

“Dalam konteks ini, pemerintah berperan sebagai upline, kemudian institusi pendidikan dan organisasi-organisasi kemasyarakatan sebagai downline yang bertugas mensosialisasikan gerakan-gerakan dan program-program pencegahan kekerasan kepada masyarakat luas” Terangnya.

 

Dengan demikian, imbuh Netty, seluruh lapisan masyarakat dapat terjangkau dan lebih melek informasi, khususnya terkait kekerasan. Selain itu juga bisa dilakukan pemetaan masyarakat, sehingga dapat dibagi tugas antar organisasi untuk saling bersinergi menjangkau seluruh masyarakat di daerahnya masing-masing.

 

"Saya yakin jika bisa bekerja ke kelompok-kelompok​ masyarakat tingkat kecamatan atau desa dan dusun, maka akan makin banyak masyarakat yang akan tercegah dari kekerasan. Ini penting, karena jangan sampai masyarakat mengenal kata kekerasan setelah menjadi korban" Pungkasnya.


BERITA LAINNYA:



15 Kabupaten/ Kota di Jabar, Masuk Ketegori Layak Anak
Laskar Naga Bonar Dukung Demiz Maju Dalam Pilgub 2018
DPD PKS Kota Bandung, Mulai Panaskan Mesin Politik
600 Ribu Sarjana Indonesia Menganggur