Rektor Kukuhkan Prof. Dr. Risdiana Sebagai Guru Besar Unpad

Pendidikan 00065X

Bandung, -- Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pesatnya pembangunan, kebutuhan energi listrik di Indonesia juga mengalami peningkatan. Sehingga diperlukan upaya untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik yang senantiasa meningkat setiap tahunnya.

 

“Untuk meningkatkan jumlah ketersediaan energi listrik di Indonesia, pengembangan dan penelitian terkait sumber energi alternatif tidaklah cukup” Ungkap Prof. Dr. Risdiana S.Si., M. Eng dalam orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Fisika Kajian Bahan Magnet dan Superkonduktor pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Kamis (13/04).

 

Selain mencari sumber energi baru, imbuhnya, untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik hal yang penting diperhatikan adalah terkait efisiensi penggunaan dan efisiensi pengiriman atau penyaluran energi listrik dari sumber energi ke pemakai. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan superkonduktor.

 

Prof. Risdiana mengungkapkan perangkat yang saat ini digunakan untuk menyalurkan energi listrik adalah kabel dengan bahan dasar tembaga. Dimana, menurut International Electrotechnical Commission (IEC), 8-15% energi listrik hilang pada saat penyaluran energi ini dari sumber pembangkit energi ke pemakai. Hal tersebut terjadi karena adanya hambatan listrik (resistivitas) dari bahan transmisi yang digunakan.

 

“Superkonduktor adalah material yang memiliki nilai hambatan listrik nol ketika didinginkan sampai suhu tertentu,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya, 5 Mei 1975 ini saat membacakan orasi ilmiah dengan judul “Pengembangan Bahan Superkonduktor: Kajian Sifat Fisis dan Prospek Pemanfaatannya untuk Pemenuhan Kebutuhan Energi Nasional”.

 

 

Prof. Risdiana menambahkan, superkonduktor telah menjadi salah satu topik utama sejumlah peneliti di dunia, untuk dikembangkan dalam berbagai keperluan teknologi, diantaranya sebagai bahan dasar kabel transmisi.

 

“Namun demikian, rendahnya suhu operasi yang diperlukan agar material ini tetap dalam keadaan superkonduktor, kehandalan bahan ini dalam menerima berbagai gangguan luar, dan teori dasar bagaimana sifat superkonduktor dapat muncul pada bahan, menjadi kendala dalam pemanfaatan dan pengembangan material ini,” ujar Prof. Risdiana.

 

Untuk itu, penelitian dan kajian sifat-sifat fisis bahan superkonduktor sangat penting dilakukan, baik aspek penelitian dasar maupun terapan. Penelitian dasar yang Prof. Risdiana lakukan lebih menitikberatkan pada penemuan teori fisika yang dapat menjelaskan aturan umum bagaimana suatu bahan dapat dibentuk menjadi bahan superkonduktor.

 

Prof. Risidana juga berpendapat bahwa pemanfaatan bahan superkonduktor untuk berbagai aplikasi di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara maju. Salah satu penelitian yang ia dengan tim lakukan adalah memanfaatkan bahan superkonduktor untuk kabel transmisi tanpa hambatan dan pembuatan prototipe kereta magnetic levitation yang dapat menghemat pemakaian energi listrik untuk menggerakkan kereta dengan kecepatan tinggi.

 

“Penelitian untuk memanfaatkan bahan superkonduktor masih harus terus dilakukan dengan dukungan dari berbagai pihak agar keberadaan bahan ini dapat menjadi salah satu solusi krisis energi yang terjadi di dunia,” Pungkasnya.


BERITA LAINNYA:



15 Kabupaten/ Kota di Jabar, Masuk Ketegori Layak Anak
Laskar Naga Bonar Dukung Demiz Maju Dalam Pilgub 2018
DPD PKS Kota Bandung, Mulai Panaskan Mesin Politik
600 Ribu Sarjana Indonesia Menganggur