Empat Macan Tutul Jawa Tertangkap Kamera Jebak

Gaya Hidup 00275X

Bandung - Macan Tutul Jawa penghuni Suaka margasatwa (SM) Gunung Sawal Kabupaten Ciamis, Jawa Barat telah dikategorikan oleh The UICN Redlist of Threatened Species, sebagai Critically endangered  karena populasinya terus menurun. Namun begitu, cukup seringnya kejadian konflik antara Macan Tutul Jawa dengan masyarakat di sekitar kawasan menjadi bukti kuat bahwa top predator tersebut memang masih menjadi penguasa di Gunung Sawal. Namun demikian, estimasi populasi hewan  pemburu ini di Gunung Sawal belum diketahui secara pasti.

Menjawab keingintahuan tersebut, Bidang KSDA Wilayanh III Ciamis melakukan pengamatandengan menggunakan alat bantu berupa kamera jebak. Tidak kurang dari 20 (dua puluh) unit kamera jebak dikonsentrasikan pada lokasi-lokasi yang diduga menjadi wilayah jelajah Macan tutul jawa serta area yang banyak ditemukan tanda-tanda keberadaan Macan tutul jawa di SM Gunung Sawal.

Pengamatan yang dilakukan sejak September 2016 hingga Februari 2017 membahkan hasil yang cukup menggembirakan. Dari 20 (dua puluh) kamera jebak yang disebar, sebanyak 11 (sebelas) kamera jebak berhasil memotret penampakan Macan tutul jawa. Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat 4 (empat) individu berbeda yang terdiri atas 2 (dua) individu jantan dewasa bercorak totol, 1 (satu) individu betina dewasa bercorak totol, dan 1 (satu) individu dewasa bercorak hitam yang belum diketahui jenis kelaminnya. Disamping itu, terdapat 3 (tiga) foto individu lain yang terlihat berbeda, terdiri atas 1 (satu) foto Macan tutul jawa bercorak dan 2 (dua) foto Macan tutl jawa bercorak hitam. Namun sayang, kualitas foto yang didapat tidak terlalu bagus sehingga tidak dapat dipastikan apakah ketiga foto tersebut merupakan individu yang sama ataukah berbeda dengan 4 (empat) Macan tutul jawa yang telah berhasil diidentifikasi.

Daerah jelajah Macan tutul jawa sendiri diperkirakan bukan hanya di SM Gunung Sawal, melainkan juga di hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani. Hal tersebut dimungkinkan mengingat hampir keseluruhan SM Gunung Sawal dikelilingi hutan Perum Perhutani dan bukti-bukti keberadaan Macan tutul jawa ditemukan di kawasan hutan produksi tersebut. Dengan demikian, daerah jelajah kucing besar ini di kawasan Gunung Sawal mencapai 11.000 ha, yang terdiri atas SM Gunung Sawal seluas 5.400 ha dan hutan produksi seluas 5.600 ha. Luasan tersebut masih cukup ideal paling tidak untuk 4-7 ekor Macan tutul jawa di kawasan Gunung Sawal.  

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Sustyo Iriyono menegaskan bahwa monitoring secara berkala terhadap populasi Macan tutul jawa, selain di SM Gunung Sawal juga dilakukan kawasan konservasi lainnya seperti CA  Tukung Gede, SM Cikepuh, CA  Telaga Warna, CA Papandayan, dan CA Kamojang.

Hal tersebut dilakukan agar estimasi populasi Macan tutul jawa secara keseluruhan di kawasan konservasi yang dikelola Balai Besar KSDA Jawa Barat dapat diketahui. Di samping itu, upaya-upaya untuk menjaga  habitat Macan tutul jawa melalui kegiatan perlidungan kawasan maupun pemulihan ekosistem akan terus ditingkatkan guna menjamin ketrsediaan pakan bagi Macan tutul jawa. Terkait dengan konflik Macan tutul jawa dengan masyarakat, perlu dibuat skema yang tepat agar kejadian tersebut dapat diminimalisirkan. Oleh karena itu, ke depan, ungkap Balai Besar KSDA Jawa Barat akan terus mendorong keterlibatan secara aktif berbagai pihak yang concern terhadap pelestarian Macan tutul jawa, utamanya dalam penjagaan dan pembinaan habitat, pengelola populasi, serta penanganan konflik Macan tutul jawa dengan masyarakat sekitar kawasan konservasi. (rls)

 


BERITA LAINNYA:



Sinergi DPU DT dan Karang Taruna Jabar, Galang Donasi Untuk Rohingya
'Humanity of World Moslem', Aksi Kemanusiaan DPU DT
Pesan Khusus Ceu Popong Dalam Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan
Kolaborasi Pemprov Jabar Dan RZ Peduli Rohingya