Toilet Difabel di Peparnas XV yang Memuliakan Paralimpian

Olahraga 00210X

Bandung - Pelaksanaa Peparnas XV Jawa Barat yang disebut sebut sebagai pekan paralimpik terbaik sepanjang 15 kali penyelenggaraan (pertama diadakan di Jawa Tengah tahun 1957), sepertinya bukan sekedar isapan jempol belaka. 

 

Salah satu buktinya adalah toilet portable ramah difabel di arena pertandingan yang diapresiasi oleh paralimpian maupun National Paralympic Comitte Indonesia (NPCI).

 

 

Menurut Yana Supriatna, penjaga toilet difabel, keberadaan fasilitas tersebut sangat penting karena terbukti banyak membantu paralimpian maupun anggota kontingennya. 

 

"Dari pagi, mulai buka jam 9, sampai tutup acara di magrib-an, hilir mudik paralimpian dan anggota kontingen yang gunakan toilet portabel ini. Ini sangat membantu mereka," katanya saat menunggu toilet, kamis (20/10) 

 

Yang paling mencolok dari toilet ini adalah keberadaan papan warna biru ukuran panjang 3 meter dan lebar 1 meter di depan pintu masuk. Dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat dan landasan relatif panjang, maka paralimpian lebih mudah masuk fasilitas tersebut. 

 

Khususnya bagi para pengguna kursi roda, pengguna toilet bisa masuk tanpa susah payah karena permukaan relatif tidak menukik. Demikian pula dengan paralimpian tuna daksa, fasilitas tambahan itu tidak seperti kebanyakan toilet portabel reguler, yang akses masuknya relatif tinggi dengan landasan pendek. 

 

Sementara saat ditengok di dalamnya, fasilitas relatif mewah dibandingkan kebanyakan toilet umum. Dengan berbentuk kotak tiga meter kali dua meter, siapapun akan merasa lebih lapang dan nyaman berada di dalam toilet. 

 

Di bagian kiri pintu masuk, ada wastafel lengkap dengan sabun cuci tangan, lalu cermin di atasnya, serta gulungan tissue pengering tangan di sebelah kirinya. 

 

Sementara bagian intinya, ada toilet duduk dengan sistem pembuangan sekali tekan serta selang untuk membilas dari salah satu merek produk toilet duduk ternama. Persis sebelah kiri toilet duduk ini, ada ember penampung air sekira paralimpian ingin mengambil air lebih banyak dari selang bilasan toilet duduk.

 

Yana mengatakan, dengan layanan ramah difabel itu, selama dirinya bertugas tiga hari dalam Peparnas XV ini, maka paralimpian banyak yang bisa masuk sendiri menggunakan kursi roda tanpa bantuan pendamping. 

 

"Jadi, saya mah tinggal bukain pintu saja, nanti masuk sendiri. Kalau sudah beres, kadang saya ikut bantuin pintu biar gampang keluar. Ada juga sih yang dibantuin masuk ke dalam sama pendamping, tapi lebih banyak yang mandiri," katanya. 

 

Menurut Yana, paralimpian butuh waktu relatif lama ketika sedang beraktivitas di dalam toilet. Hal ini lumrah karena tak mudah pula bergerak cepat menunaikan hajatnya sembari menggunakan kursi roda. Itulah sebabnya, ukuran toilet yang lega dan dudukan ke pintu masuk, sudah tepat adanya. 

 

Maka itu, seperti dikatakan berulang oleh Ketua Umum NPCI Senny Marbun, aneka fasilitas ramah difabel dalam Peparnas di Jawa Barat ini layak diapresiasi. Dan tentu saja sulit sulit dibantah, betapa Jawa Barat dan PB Peparnas demikian bersungguh-sungguh memuliakan paralimpian.


BERITA LAINNYA:



BI Jabar Jamin Ketersedian Uang Saat Natal dan Tahun Baru Mencukupi
Pemprov Jabar Himbau Warga Ikuti Imunisasi ORI Difteri
Nilai Gizi dan Ekonomi Tinggi, Ikan Sidat Punya Potensi
Vaksin Indonesia Dibutuhkan di Banyak Negara Islam